Hati yang Kehilangan Cahaya

Oleh: Miftahuddin*

Sore itu, suara adzan ashar telah dikumandankan di mana-mana. Segala aktivitas umat muslim pun segera dihentikan dan mereka bersegara untuk memenuhi undangan Sang Maha Pemilik segala yang ada di bumi ini. Begitu pula dengan para santri yang terdapat di kampus Hidayatullah Surabaya, mulai dari santri SMP hingga para mahasiswa menghentikan segala aktivitasnya dan bergegas menuju ke masjid. Begitu halnya aku yang segera menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat ashar walaupun kondisiku pada saat itu masih dalam keadaan kurang sehat, yang dalam keadaan pusing aku memaksa untuk tetap melangkahkan kaki ini untuk memenuhi panggilan-Nya.
Setelah mengambil air wudhu sesaat kemudian iqamah pun dikumandankan pertanda bahwa sholat ashar akan segera digelar. Pada saat itu aku sudah mengambil posisi di shaf terdepan, tepat di sebelah kanan bagian belakang Imam. “Allah Akbar,” sang Imampun memulai bertakbir pertanda perjumpaan dengan sang Rabb telah dimulai. Setiap orang larut dalam sholatnya. Mungkin ada di antara mereka yang khusyu dalam sholatnya, mungkin pula ada yang pikirannya melayang entah ke mana. Begitu pula dengan diriku yang semula ku rasakan hanya biasa-biasa saja namun pada saat dalam keadaan sujud tiba-tiba hati ini menjerit, ada rasa yang bergetar dalam hatiku, dan bersamaan dengan itu tidak terasa air mataku sudah mulai mengalir deras di pipiku dan membasahi sejadahku.
Pada saat mata ini meneteskan air mata, seakan-akan hati ini menjerit dan berkata,Kenapa? kenapa? Kenapa baru kali ini aku disirami dengan tetesan air mata setelah begitu lama aku dibiarkan dalam keadaan kering tanpa ada setetes siraman air keimanan. Dan kenapa baru kali ini aku mendapatkan setitik cahaya setelah begitu lama aku dibiarkan dalam keadaan gelap gulita tanpa ada setitik cahaya keimanan yang menerangiku. Apakah yang membuatku menjadi kering dan menjadi gelap dalam jangka waktu yang begitu lama?
Hal ini membuatku teringat beberapa tahun yang lalu pada saat aku masih berada di pondok Balikpapan, yang mana pada saat itu aku sering sholat di shof terdepan dekat dengan pimpinan. Di saat sholat berjamaah tersebut aku selalu merasakan nikmatnya sholat dengan khusyu bahkan pernah, saat sepanjang aku sholat air mataku menetes tanpa henti. Dan tidak hanya itu, bahkan pada setiap sholat-sholat malamku pun juga demikian. Pernah suatu ketika di malam hari pada saat sedang hujan deras, aku menjalankan sholat malam dengan sangat khusyu hingga pada saat-saat sedang sujud pun aku terus-terusan meneteskan air mata tanpa henti karena begitu nikmatnya sholat tahajjud yang kurasakan pada saat itu.
Akan tetapi setelah aku lulus dari madrasah Aliyah di pondok tersebut, hingga sekarang, aku tidak pernah lagi merasakan nikmatnya rasa khusyu dalam melaksanakan sholat malam dengan meneteskan air mata, bahkan di bulan-bulan Ramadhan yang telah aku jalani beberapa tahun kemarin. Aku merasa ada sesuatu yang talah hilang dari dalam diriku, yaitu setitik cahaya yang selama ini aku jaga, dan aku juga merasa kesucian hati yang dulu sering basah dengan tetesan air mata kini telah kering tanpa pernah tersirami dengan air keimanan. Tapi hati yang dulu kehilangan setitik cahayanya kini kembali lagi dan yang dulu kekeringan kini basah kembali setelah tersirami tetesan air mata keimanan.
Akhirnya hatiku menemukan kembali setitik cahaya-Nya yang telah lama hilang dan puncak penemuan kembali cahaya hatiku adalah pada saat aku melaksanakan sholat ashar berjamaah, dan ternyata yang membuat hati ini kehilangan setitik cahaya-Nya dan menjadikannya kering ialah karena jauhnya hati ini dari Sang Pemilik cahaya keimanan  tersebut, dan kini hatiku telah bersinar kembali dengan cahaya iman-Nya. Kini aku merasa lebih sedikit bersemangat dalam menjalani hari-hariku dengan semangat baru yang telah aku temukan kembali, kini tinggal bagaimana agar aku bisa menjaga agar cahaya keimanan ini agar tetap bersinar.
Adapun kiat untuk menjaga kesucian hati ini ialah :
1.      Membaca Al Qur’an. Dengan membaca Al Qur’an maka hati kita akan terjaga dari segala penyakit hati. Dengan Al Qur’an tesebut juga dapat kita gunakan sebagai pembersih hati.
Dan kami turunkan Al Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al Qur’an itu tidaklah memberi nilai tambah bagi orang-orang yang dzalim kecuali kerugian. (QS. Al Israa [17] : 82)
2.      Sholat malam atau qiyamul lail. Kita akan senantiasa dapat merasakan ketenangan dalam hati ini apabila kita dapat menghidupkan setiap malam-malam kita dengan sholat malam, karena hal ini juga merupakan bagian dari kebiasaan Nabi dan para sahabat zaman dulu. selain itu, qiyamul lail juga merupakan ibadah yang utama setelah sholat-sholat fardhu. Sabda Rasulullah SAW “Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu ialah qiyamul lail”. ( Riwayat muslim, Ash-shohih, kitab Ash-shiyam, hadits No. 1982 )
3.      Dzikir. Dzikir bermakna mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun, yang hati kita tidak bisa merasa tenang walaupun kita memiliki rumah yang besar ataupun harta yang melimpah, akan tetapi hati akan merasakan ketenangan yang hakiki hanya dengan berdzikir kepada Allah SWT.
ingatlah, hanya dengan mengingat Allah menjadi tentram(QS, Ar-Ra’d [13]: 28)
Tentu masih banyak lagi cara untuk menjaga kesucian hati ini, yang mana kita juga tidak akan dapat merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah SWT jika sekiranya kita belum dapat menjaga hati kita agar senantiasa berada dalam kesucian. Oleh karena itu marilah kita senantiasa menjaga hati ini agar tetap berada dalam kesucian dengan banyak berdzikir, sholat malam, membaca Al Qur’an dan juga dengan amalan-amalan yang menjadikan hati kita senantiasa berada dalam kesucian dan ketenangan.

*) Penulis adalah anggota API (Asosiasi Penulis Islam)


Teruskan :

+ Komentar + 1 Komentar

5 Desember 2011 23.16

Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Semakin bertambah usia terkadang kualitas sholat dan kualitas keimanan menjadi semakin meningkat. Padahal semakin bertambah ilmu dan bertambah usia, semestinya semakin baik. Semoga kita bisa lebih baik dan lebih baik..semoga hubungan kita dengan Allah semakin dekat..Amiin

Posting Komentar

Tanggapi atas dasar dari lubuk hati dengan ilmu yang Anda miliki..

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Asosiasi Penulis Islam (API) Surabaya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger