Featured Post Today
Latest Post

Bersyukur dengan Memberi

Oleh: Ahmad Tahfif*
      Sahabat-sahabatku yang dimuliakan Allah. Sebagai manusia, wajarlah jika sesekali kita mengeluh dengan keadaan yang tidak sesuai keinginan. Tetapi, tidak pantas rasanya jika setiap kali kita menemukan hal yang melenceng saja dari apa yang kita inginkan dihadapi dengan mengeluh.
     Mengeluh sepertinya sudah menjadi “tren”. Contohnya saja dengan adanya jejaring sosial yang memungkinkan untuk kita bisa men-share apapun yang kita alami. Ini secara tidak langsung dapat menjadi hal pelancar mengeluh. Pentingkah menceritakan semua yang menimpa kita kepada semua orang? Apakah dengan menceritakan semuanya dapat menghilangkan masalah itu? Tentu tidak.
          Memang, mengeluh sah-sah saja untuk mencari solusi masalah kita. Yang terjadi ketika kita mengeluh, apakah kita berpikir untuk menemukan solusi? Kebanyakan kita tidak berpikir jauh seperti itu. Secara tersirat, tujuannya hanya ingin orang mendengarkan keluh kesah kita
Sebenarnya, dengan atau tanpa mengeluh hidup tetaplah hidup. Yang harus dijalani walaupun lelah, yang harus dihadapi walaupun berat, yang harus dimengerti walaupun rumit. Memperlihatkan kelemahan kita justru akan menjadi negatif.

Paha Manusia vs Paha Ayam


Oleh: M. Arifuddin*

    Pada saat ini, pakaian seksi bukan hal yang tabu lagi di kalangan masyarakat, bahkan hal ini sudah menjadi habit (kebiasaan). Banyak di kalangan wanita yang merasa risih ketika menggunakan pakaian-pakaian yang sopan, apalagi sampai menggunakan jilbab. Hal ini dikarenakan dalam benak mereka pakaian seksi adalah tren wanita masa kini. Sedangkan pakaian yang menutup aurat adalah gaya busana yang sudah termarjinalkan.
    Hari ini bisa dibuktikan, ketika kita berkunjung ke tempat-tempat umum seperti: mall, pasar, bank, perkantoran, dan lain-lain, kita akan disuguhi paha-paha yang bergentayangan. Dengan PeDenya, dan tanpa rasa malu sedikitpun, mereka mempertontonkan aurat mereka kepada orang-orang yang jelas-jelas bukan muhrim mereka.
     Jadi bukan hal yang aneh jika di media-media massa seperti: televisi, koran, Internet, dan sebagainya, sering kita jumpai berita-berita yang membuat telinga kita panas, seperti: pencabulan, pemerkosaan, serta serentetan pelecehan seksual lainnya. Ini semua disebabkan karena betapa banyak kaum hawa yang mengumbar aurat mereka, bahkan mereka merasa puas dan bangga jika melihat kaum adam terperangah tatkala melihat kemolekan tubuh mereka.

Suap, Oh, Suap


Oleh: M. Edy Kurniawan*
 
Kata suap mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, sampai sampai hampir di semua media massa membeberkan berita tentang adanya suap-menyuap di antara para pejabat kita di Negeri ini, diantaranya adalah suap-menyuap di antara petinggi Partai Demokrat dengan  Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Suap-menyuap, kasus ini terjadi setelah Komite Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), bahwa terdapat pelanggaran etika para pemimpin KPK.
Beberapa anggota Komite Etik Ahmad Syafii Ma’arif membenarkan bahwa Komite mengambil kesimpulan pada selasa kemarin. Komite telah meminta keterangan puluhan saksi di antaranya ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Wakil Sekjen Partai Demokrat Saan Mustofa, ketua Komisi Hukum DPR Benny Kabur Harman dan mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin.

Nganggur Bermanfaat


Oleh: R. Yahya*

Sabtu sore, 15 oktober  ’11 hanyalah hari biasa sebagaimana hari-hari sebelumnya. Nggak ada pekerjaan, nganggur, dan gak jelas. Coba liat teman saya yang lainnya, jelas, pada punya kerjaan semuanya. Menyebar menempati pos-pos TPA-nya masing-masing, ada juga yang jadi pencari donatur, dan lain-lain. Dulunya, sih.. saya juga termasuk salah satu dari mereka, jadi tenaga pengajar.  Tapi, semester baru sekarang ini sudah nggak lagi. Beda.
Namun, ya.. sebenarnya kerjaan ada aja, sih. Cuma belum ada komando aja dari atasan. Belum ada perintah langsung dari pondok untuk saya aktif bekerja sebagai security. Ya, security,, satpam! Begitulah kata-kata olokan temanku pada saya. Seakan-akan  kalo satpam itu adalah posisi rendahan.  Terus, ada juga yang bilang kalo saya nggak bakalan bisa keluyuran lagi. Hah, terserah. Tapi, aslinya saya kalem-kalem aja dibegituin. Biarin aja, emang orang “sakit” semua kok yang talking rubbish  kayak gitu. Nggak penting amat diladenin.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Asosiasi Penulis Islam (API) Surabaya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger