Featured Post Today
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Edisi XX/ 21 November 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi XX/ 21 November 2011. Tampilkan semua postingan

Sebagaimana Allah Memberi

Oleh: M. I. Syafi’i*

Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.(Q.S. al-Muddassir;6)

Sang surya
Dalam hal beramal, khususnya memberikan sesuatu yang terbaik ini, Allah telah memberikan batasan-batasan yang jelas. Batas inilah yang seharusnya dipraktikan oleh seorang guru. Bagai sang surya menyinari dunia. Tanpa kenal pamrih. Berupaya semaksimal mungkin, mengantarkan muridnya, bagaiman menjadi seorang anak yang baik.
Dalam melaksanakan tugasnya yang mulia itu. Rasa kasih sayang sang guru memupuskan harapan untuk mendapatkan balasan dari semua yang dia curahkan. Seorang guru, awalnya beliau selalu membiayai kegiatan-kegiatan yang dianggap oleh beliau, dapat menunjang dan mendukung  sebagai profesinya. Pada setiap waktu luang, beliau sempatkan untuk membaca buku atau mengikuti seminar. Itu dilakukan oleh beliau, juga untuk menambah wawasan dan memperbanyak ilmunya. Rela berkorban, mengeluarkan biaya yang sebenarnya bukan tanggung jawab seorang guru.

SARJANA Saja…!!


Oleh: M. Arifuddin*

Satu malam satu lembar saja!
Diam dan mulailah nerenungkannya!
Bukankah janjimu ingin menjadi SARJANA?
Jangan membuat mereka meneteskan air mata!
Bukankah harapan mereka tidak mengada-ada?
Hanya ingin melihatmu menjadi SARJANA!
SARJANA yang ditunggu ummat, di kota maupun di pelosok-pelosok desa.

Merokok Dapat Menyebabkan Kebodohan, Kedunguan,...

Oleh: D. Rasyid Albar*

Suasana rapat di sebuah sekolah dasar berlangsung sedikit panas (kisah ini saya adopsi dari certa ibu saya ketika mengikuti pertemuan wali murid). Topik masalah kenaikan gaji tampaknya menjadikan suasana rapat kian tegang, ditambah lagi kepulan asap rokok yang dihembuskan para guru-guru pria, menjadikan ruangan menjadi semakin terasa pengap. Salah satu saran dan permohonan seorang guru pria menarik perhatian. Ia berkata, mengusulkan, “Kami berharap agar ke depannya kami sebagai guru mendapatkan gaji yang layak. Terutama bagi kami yang laki-laki. Kalau gaji kita sebulan hanya enam ratus ribu, itu tidak cukup. Kami sehari untuk rokok saja sampai sepuluh ribu. Kalau sebulan sudah tiga ratus ribu. Tiga ratus untuk diri sendiri, tiga ratusnya lagi untuk anak-istri. Ya mana cukup, lah.”

Tidak cukup dengan peringatan
Jika iklan peringatan bahwa “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi , dan gangguan kehamilan dan janin” tidak mampu mencegah para ahli hisap (Perokok) untuk berhenti, bahkan telah sering kita mendengar berita-berita yang mengabarkan telah berapa nyawa terenggut oleh rokok, maka, semoga dengan tulisan ini sedikit bisa menggugah hati mereka.

Komersialisasi Tubuh Wanita: Tanggung Jawab Media

Oleh: Khairul Huda*

Dewasa ini kontrol terhadap urusan moral semakin susah saja. Sekuat dan sejauh apapun kita memagari diri dan anak-anak kita, tetap saja terasa percuma. Apa pasal? Media. Secara jujur saya akan mengatakan bahwa media bertanggung jawab atas runtuhnya kontrol moral. Sebab dunia zaman sekarang ini sudah penuh sesak dengan program-program media. Televisi maupun cetak sama saja. Tak ada beda. Iklan-iklan bertebaran, antri untuk mendoktrin. Dan isi dari iklan itu sebagian besar—atau saya katakan saja hampir seluruhnya—memajang wanita-wanita cantik, mulus dan seksi. Coba Tanya pada diri anda, berapa persen dari alam sadar otak anda yang disetir oleh iklan-iklan  media. Saya tak hendak mengajak untuk merenung. Semua sudah begitu nyata. Jelas. Terang benderang. Namun apa hanya media? Saya menambah satu kata lagi. Wanita (Baca: Model iklan). Itu dia akar masalah kedua rusaknya kontrol moral selain media yang terus menerus menayangkan dan mencetak lekak-lekuk tubuh mereka.

Hilangnya Harkat Martabat Seorang Wanita

Oleh: Ali Rasidin*

Pada  dasarnya, kita  sebagai kaum Muslimin dan Muslimat  khususnya bagi kaum  wanita jilbab adalah salah satu permasalahan yang sangat besar, karena di dalam Agama Islam   dianjur-kan  untuk memakai jilbab. Bukan hanya  dari segi itu saja, bahkan  ketika Nabi SAW menjadi  pemimpin beliau   juga memerintahkan para wanita Muslim  untuk memakai jilbab agar  mereka  terjaga dari fitnah dan  menutupi  hal-hal yang tidak pantas dilihat  oleh kaca mata Islam,  se-hingga terjaga keimanan mereka kepada Allah. Dalam hal ini Allah  memaparkan di dalam se-buah ayat di  dalam al-Qur’an surah al-Ahzab [33] ayat 59 yang artinya:
“Wahai, Nabi, katakan-lah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-isrti orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menuntupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Hikmah Diharamkanya Babi

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,(daging hewan) yang disem-belih atas nama selain Allah SWT, yang tercekik, yang jatuh, yang dipukul, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan bagimu) yang di sembelih untuk berhala.”(QS, Al Maidah : 3)

Berbahaya!
Sebagai umat islam yang berakal tentu kita telah mengetahui makanan apa saja yang telah dihalalkan dan diharamkan oleh Allah SWT kepada umat-Nya terkhusus umat muslim. Yang menjadi pertanyaannya sekarang ialah makanan seperti apa saja yang dihalalkan dan di-haramkan oleh Allah SWT.
“Wahai manusia, makanlah dari (makanan) halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nya-ta bagimu. ( QS, Al baqarah : 168 )
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Asosiasi Penulis Islam (API) Surabaya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger